ABSTRAK
Salah satu syarat tak tertulis bagi seoraug pejabat publik adalah terampil berkomunikasi. Sebab, pejabat publik mesti mampu mengkomunikasiknn dengan baik berbagai kebijakan yang diambilnya. Pejabat publik juga dituntut bisa mengelola 'serangan' dari pihak yang resisten atas kebijakannya.
Setiap pejabat publik mempunyai gaya komunikasi berbeda. Salah seorang pejabat publik yang gaya komunikasinya unik dan fenomenal yakni Gubemur OKI Jakarta, Basuki Tjahhaja Purnama alias Ahok. Mantan Bupati Beliung Timur ini cepat dikenal secara luas bukan hanya karena kinerjanya tetapi juga lantaran gaya komunikasinya. Yang segera teringat oleh kebanyakan orang tentang Ahok yakni bicaranya yang ceplas - ceplos, kata - katanya yang kasar· dan kebiasaanya marah-marah. DPRD DKI Jakarta, selaku mitra kerja gubernur DKI Jakarta, merupakan salah satu lembaga yang paling banyak berkomuniaksi dengan Ahok.
Tujuan penelitian ini adalalah utuk mengetahui pengalaman anggota DPRD DKI Jakarta dalam berkomunikasi dengan Gubernur Ahok. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenornenologi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling atau pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi serta studi pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan para informan mempunyai pengalaman berkomunikasi dengan Gubemur Ahok. Latar belakang informan, termasuk baju politik mereka mempunyai andil dalam membentuk pengalaman mereka dalam berkomunikasi dengan Ahok. Secara umum mereka terbelah menjadi dua kutup. Pertma adalah kelompok informan yang tak masalah dengan gaya komunikasi Ahok. Mereka nyaman-nyaman saja, bahkan perasaannya tidak tersinggung dengan kata-kata dan ekspresi sang gubernur yang mudah meledak-ledak. Mereka justur menemukan sisi positif dari gaya komunikasi Ahok.
Mayoritas infonnan masuk kutub kedua. Yakni mereka yang terganggu dengan gaya Ahok. Mereka bukan hanya merasa tak nyaman tetapi juga merasa 'terserang' dengan gaya komunikasi sang gubernur. Mereka merasa terhina dan marah, misalnya ketika Ahok menyebut, rampok, maling, bekal dalam kasus dana siluman· DPRD DKl Jakarta 2015. Selain memicu konflik kelembagaan, gaya komunikasi Ahok jugn membuat hubungan pribadi bebeberapa informan dengan sang Gubernur renggang.
Keyword: Komunikasi politik, gaya komunikasi politik, studi fenomenologi, gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, anggota DPRD DKI Jakarta.
TESIS
ABSTRAK
Salah satu syarat tak tertulis bagi seoraug pejabat publik adalah terampil berkomunikasi. Sebab, pejabat publik mesti mampu mengkomunikasiknn dengan baik berbagai kebijakan yang diambilnya. Pejabat publik juga dituntut bisa mengelola 'serangan' dari pihak yang resisten atas kebijakannya.
Setiap pejabat publik mempunyai gaya komunikasi berbeda. Salah seorang pejabat publik yang gaya komunikasinya unik dan fenomenal yakni Gubemur OKI Jakarta, Basuki Tjahhaja Purnama alias Ahok. Mantan Bupati Beliung Timur ini cepat dikenal secara luas bukan hanya karena kinerjanya tetapi juga lantaran gaya komunikasinya. Yang segera teringat oleh kebanyakan orang tentang Ahok yakni bicaranya yang ceplas - ceplos, kata - katanya yang kasar· dan kebiasaanya marah-marah. DPRD DKI Jakarta, selaku mitra kerja gubernur DKI Jakarta, merupakan salah satu lembaga yang paling banyak berkomuniaksi dengan Ahok.
Tujuan penelitian ini adalalah utuk mengetahui pengalaman anggota DPRD DKI Jakarta dalam berkomunikasi dengan Gubernur Ahok. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenornenologi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling atau pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi serta studi pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan para informan mempunyai pengalaman berkomunikasi dengan Gubemur Ahok. Latar belakang informan, termasuk baju politik mereka mempunyai andil dalam membentuk pengalaman mereka dalam berkomunikasi dengan Ahok. Secara umum mereka terbelah menjadi dua kutup. Pertma adalah kelompok informan yang tak masalah dengan gaya komunikasi Ahok. Mereka nyaman-nyaman saja, bahkan perasaannya tidak tersinggung dengan kata-kata dan ekspresi sang gubernur yang mudah meledak-ledak. Mereka justur menemukan sisi positif dari gaya komunikasi Ahok.
Mayoritas infonnan masuk kutub kedua. Yakni mereka yang terganggu dengan gaya Ahok. Mereka bukan hanya merasa tak nyaman tetapi juga merasa 'terserang' dengan gaya komunikasi sang gubernur. Mereka merasa terhina dan marah, misalnya ketika Ahok menyebut, rampok, maling, bekal dalam kasus dana siluman· DPRD DKl Jakarta 2015. Selain memicu konflik kelembagaan, gaya komunikasi Ahok jugn membuat hubungan pribadi bebeberapa informan dengan sang Gubernur renggang.
Keyword: Komunikasi politik, gaya komunikasi politik, studi fenomenologi, gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, anggota DPRD DKI Jakarta.