Persaingan bisnis pada industry fashion tentunya akan sangat berpengaruh pada tingkatan kualitas yang
harus dicapai oleh sebuah perusahaan
. Perusahaan berlomba lomba untuk melakukan banyak inovasi produk dan
meningkatkan kualitas serta mengurangi produk reject agar perusahaan mencapai benefit atau keuntungan yang
diharapkan. Apabila perusahaan tidak bisa melakukan pengendalian kualitas denga
n baik bisa di bayangkan produk
reject akan tinggi dan ini tentunya akan merugikan perusahaan belum lagi ketersediaan material yang tidak pasti
juga bisa menjadi salah satu factor menghambar produksi . Dalam satu kali Produksi sebanyak 500
0
produk
terdapat 100 produk cacat yang harus dilakukan perbaikan.
Produk cacat terjadi paling banyak pada proses manual
yaitu pada proses pengeleman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui terkait dengan pengendalian kualitas
untuk mengurangi reject yang selama
ini terjadi.
Metode yang digunakan yaitu Six Sigma DMAIC. Berdasarkan
perhitungan nilai rata
-
rata DPMO dan nilai rata
-
rata sigma
3,7 dengan kemungkinan kerusakan yang terjadi pada
produksi sebesar 12.000 pcs ketika memproduksi 1.000.000 pcs tas
.
Kata Kunc
i
:
Six SIGMA , DMAIC , Fishbone industri Fashion di tengah era
pandemi covid ini
sangat ketat, melihat data yang
ada bahwa efek dari pendemi ini adalah salah satu
efek yang sangat meberikan sumbangsih penurunan
terhadap daya beli konsumen ditengah masa
pandemi. Dengan tren yang terus berkembag pelaku
bisnis ini juga tidak boleh berhen
ti berinovasi
(Sinambela & Lahudin, 2014)
.
Para pelaku industri
fesyen pun dituntut untuk dapat menyesuaikan
dengan perubahan perilaku masyarakat Indonesia
demi menghadapi ta
ntangan di tengah pandemi.
Salah satu caranya adalah beradaptasi di masa
pandemi, mulai dari tren hingga memaksimalkan
digitalisasi. Industri Manufacture di bidang Tas bisa
dikatakan masuk kedalam kategori Fashion. Untuk
memaksimalkan keuangan agar mendapa
tkan
benefit yang maksimal perusahaan dituntut untuk
dapat menekan Reject yang terjadi pada proses
produksi
(Pande et al., 2000)
. Hal demikian sangat
harus dilakukan dikarenakan perusahaan sudah
banyak mengalami kesulitan dari sisi penjualan ,
proses sourci
ng barang yang tidak mudah
dikarenakan terbatasnya interaksi sosial dikarenakan
pendemic serta untuk memulikan keuangan
perusahaan. Bisa dibayangkan apabila dengan
adanya reject baik reject yang masih bisa diperbaik
i
atau di rework kembali hal itu sama sam
a akan
menambah biaya produksi dan akan membuat lead
time proses tidak sesuai dengan target deadline
(Gaspersz, 2003)
.
Megatama Group adalah salah satu
manufacture bag yang ada di indonesia dengan klien
tidak hanya dari lokal tapi luar neg
e
ri pun menjadi
bagian dari
kliennya. Salah satu produksi yang
dibuat yaitu
banyak diantaranya brand lokal yang
mebuat tas pada perusahaan ini diantaranya Ria
Miranda, Doris Do
rthea, Ayudia Andahari ( ADA)
.
Pada penelitian ini
penulis
mengambil
salah satu produk yaitu produk yaitu produk Sling
bag milik brand lokal indonesia yang dipasarkan