Media sosial sudah menjadi pendamping dalam kehidupan sehari hari masyarakat baik itu kalangan remaja sampai orang dewasa. Semua berita yang terjadi saat itu atau yang sedang
fenomenal ataupun ingin berjumpa dengan teman, kerabat jauh dengan mudahnya kita dapat mengetahui keberadaan dan kabar ataupun kegitan yang dilakukan. Media social menjadi kebutuhan semua masyarakat Indonesia, berita-berita yang terdapat di media social khususnya berita yang sedang fenomenal terupload dengan cepat menyebar menjadi tidak terfilter bahkan sulit sekali membedakan mana yang berita asli ataupun palsu. Hal ini diperlukan kecerdasan dan ketelitian masyarakat dalam menyikapinya. Hoax, saat ini menjadi sebuah keniscayaan yang harus dihadapi masyarakat di era digital ini. Produksi berita palsu atau bohong tersebut tidak
lepas dari fenomena post-truth, dimana kebenaran tidak lagi bersandar pada fakta melainkan pada perspektif subjektif (politik, agama, golongan, dst). Fenomena ini telah menempatkan masyarakat kepada situasi saling mencurigai. Khalayak tidak lagi dapat membedakan mana berita atau informasi valid, mana yang hoax. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode penelitian deskrip- tif . Hasil penelitian ini kemudian diolah dan dianalisis untuk pengampilan kesimpulan. Dan juga menggunakan Teori Proses Selektif dalam Komunikasi Massa yang terdiri dari. Selective exposure (terpaan selektif), selective retention (pengingatan selektif)dan Selective perception (persepsi selektif). Etika merupakan kompas moral dalam menghadapi situasi abu-abu dan dilema akibat situasi itu.Siapapun yang mengunggah berita harus memastikan tindakannya selalu memaksimalkan pencarian kebenaran dan meminimalkan dampak kerugiannya bagi orang lain. Etika bermedia sosial artinya berkomitmen melakukan hal- hal benar ketika kemungkinan kesalahan lebih besar.
Kata Kunci : hoax,era post truth, persepsi
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP FENOMENA HOAX DI MEDIA ON LINE PADA ERA POST TRUTH
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP FENOMENA HOAX DI MEDIA ON LINE PADA ERA POST TRUTH
(PDF) Hoax, Nestapa Kebohongan Era Post-Truth. Available from:
https://www.researchgate.net/publication/322756652_Hoax_Nestapa_Kebohongan_Era_Post-Truth
[accessed Oct 28 2018].
Al-Rodhan, Nayef. 2017. Post-Truth Politics, the Fifth
Estate and the Securitization of Fake News. Link
artikel:https://www.globalpolicyjournal.co
m/blog/07/06/2017/post-truth-politics-fifth-estate-and-
securitization-fake-news
Feldman, Tonny. 2005. An Introduction to Digital Media, London&New York, A Blueprint Book.
Gumilar, et. Al (Februari 2017), Literasi Media; Cerdas Menggunakan
Media Sosial dalam Menganggulangi Berita Palsu (Hoaz) oleh Siswa SMA.
Link artikel:http://jurnal.unpad.ac.id/pkm/artic le/view/16275
Kurniawan, Frendy-tirto.co.id, (27 Juli 2018), Kronologi
Revitalisasi Lapangan Banteng dan Perang
Disinformasi. Link berita:
https://tirto.id/kronologi-revitali-sasi-lapangan-banteng-dan
perandisinformasi-cP1d
Nasrullah, Rully. 2014. Teori dan Riset Media Siber (cyberspace), Jakarta, Prenadamedia Grup.
Nasrullah, Rully. 2015. Media Sosial, Jakarta, Simbiosa Rekatamedia.
Pariser, Eli. 2011. The Filter Bubble: How the New Personalize Web
in Chaning What We Read and How We Think, Penguin.
Rader. Emilee & Gray. Rebbeca. 2015 Understanding User
Beliefs about ALgorithmic Curation in the Facebook
News Feed, Association for Compuing Machinery. Link
artikel:https://scholars.opb.msu.edu/en/p
ublications/understanding-user-
beliefs-about-algorithmic-curation-in-the-face.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Aflabeta.
Setiawan, Ikhwan (25 Septermber, 2017), Media Sosial, Politik
Post-Truth dan Tantangan Kebangsaan. Link berita:
http://matatimoer.or.id/2017/09/25/media-sosial-politik-post-truth-dan
tantangan-kebangsaan/